Di Kaki Bukit Cibalak - Ahmad Tohari

Di Kaki Bukit Cibalak - Ahmad Tohari

Fri May 22 2026
1209 words · 7 minutes

Oleh
Ahmad Tohari


Daftar Isi


Episode 1

Dulu, jalan setapak itu adalah terowongan yang menembus belukar puyengan. Bila iring-iringan kerbau lewat, tubuh mereka tenggelam di bawah terowongan semak itu. Hanya bunyi korakan yang tergantung pada leher mereka terdengar dengan suara berdentang-dentang, iramanya tetap dan datar. Burung-burung kucica yang terkejut, terbang mencicit. Mereka tetap tidak mengerti mengapa kerbau-kerbau senang mengusik ketenteraman belukar puyengan tempat burung-burung kecil itu bersarang.

Meskipun kerbau-kerbau itu telah jauh memasuki hutan jati Bukit Cibalak, suara korakan mereka masih tetap terdengar. Dan bunyi korakan adalah pertanda yang selalu didengarkan oleh majikan. Para pemilik kerbau di sekitar kaki Bukit Cibalak tidak menggembalakan ternak mereka. Binatang itu bebas berkeliaran mencari rumput, mencari umbut gelagah, atau berkubang di tepi hutan jati.

Sekarang terowongan di bawah belukar puyengan itu lenyap, berubah menjadi jalan setapak. Tak terdengar lagi suara korakan kerbau karena binatang itu telah banyak diangkut ke kota, dan di sana akan diolah menjadi daging goreng atau makanan anjing. Di sekitar kaki Bukit Cibalak, tenaga kerbau telah digantikan traktor-traktor tangan.

Burung-burung kucica yang telah turun-temurun mendaulat belukar puyengan itu terpaksa hijrah ke semak-semak kerontang yang menjadi batas antara Bukit Cibalak dan Desa Tanggir di kakinya.

Orang-orang yang biasa memburuh dengan bajak, kemudian berganti pekerjaan. Pak Danu misalnya, yang dulu dikagumi orang karena kecakapannya memainkan bajak, kini bekerja pada Akiat. Ia menjadi tukang timbang ampas singkong.

Bekas telapak kerbau yang mengukir jalan-jalan setapak telah terhapus oleh gilasan roda-roda sepeda atau sepeda motor. Dari sebuah lorong setapak yang sempit kini terciptalah sebuah jalan kampung yang agak lebar.

Orang-orang Tanggir tidak merasa terganggu oleh banyaknya sampah plastik dalam pawuan mereka. Mereka punya kesabaran yang luar biasa untuk menjumputi sampah-sampah pabrik itu bila mereka hendak menjadikan isi pawuan mereka sebagai pupuk kompos.

Suatu siang Pak Danu pulang dari rumah taukenya. Ia sengaja singgah beberapa kali ke rumah orang-orang yang dikenalnya. Pak Danu ingin memamerkan sebuah tabung yang dicurinya dari rumah Akiat, sambil berpropaganda dengan bangga:

“Ya, inilah obat semprot ketiak yang sering disiarkan oleh radio dan televisi. Inilah barangnya. Kalian baru melihat gambarnya atau mendengar namanya saja, bukan? Tetapi aku kini telah memilikinya! Di kampung ini pastilah aku yang pertama kali memiliki barang mahal ini.”


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 2

Selama perjalanannya ke Balai Desa, Jirah yang paling banyak berbicara. Mula-mula ia bercerita tentang pengalamannya menggunakan sampo yang terbaru. Kemudian bercerita tentang sabun yang mengandung minyak zaitun. Jirah tidak perlu merasa bodoh walaupun ia tidak tahu apa itu zaitun. Yang penting ia dapat menirukan kata-kata tukang iklan di radio atau televisi.

Di halaman Balai Desa telah berkumpul banyak sekali warga Desa Tanggir. Lurah baru akan dipilih hari itu, karena lurah yang lama telah meletakkan jabatan.

Penduduk Desa Tanggir adalah keturunan dari dua kelompok orang yang berlainan. Kaum kawula yang dulu dipaksa oleh Raja Mataram untuk membuka tanah-tanah rawa di sekitar kaki Bukit Cibalak, adalah nenek moyang kebanyakan orang Tanggir. Seperti nenek moyangnya, orang Tanggir masih berjiwa kawula. Falsafah hidupnya: nrimo pandum.

Nenek moyang sebagian kecil penduduk Tanggir adalah kerabat ningrat yang menyingkir dari istana Mataram. Di Desa Tanggir mereka menurunkan priyayi-priyayi kecil: opas Kantor Kecamatan, mantri pasar, atau guru-guru sekolah.


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 3

Dan tiba-tiba perhatian semua orang tertuju ke bawah pohon johar di sudut halaman Balai Desa. Di sana seorang kakek sedang membaca mantra. Tentu ia telah dibayar oleh seorang calon agar “wahyu” datang kepada calon yang telah memberinya uang.

Tiap-tiap calon mempunyai beberapa orang botoh yang mempunyai tugas sebagai pengumpul suara. Soal cara, tidak diperhatikan benar. Maka para botoh inilah yang hampir selalu mendatangkan onar pada setiap pelaksanaan pemilihan pamong desa.

Siapa pun yang ingin menjadi lurah Desa Tanggir tidak boleh sayang terhadap uang dua, tiga, atau empat puluh juta rupiah. Kelima orang calon yang hendak dipilih pagi itu telah mengeluarkan uang banyak sekali.

Meskipun ada lima orang calon, kebanyakan orang mengatakan hanya dua orang yang memiliki peluang. Satu di antaranya adalah Pak Badi. Calon lain yang keadaannya mengimbangi Pak Badi adalah calon yang memegang lambang dengan gambar pedang. Ia bernama Dirgamulya, dan terkenal dengan sebutan Pak Dirga.

Dan ternyata keluhuran budi, kearifan, serta kejujuran Pak Badi tidak memberikan nasib baik. Ia kalah, karena Pak Dirga-lah yang terpilih.


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 4

Karena merasa menemukan jalan buntu, Pambudi mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Dan keputusannya untuk meninggalkan pekerjaannya yang lama datang dua bulan kemudian.

Seorang perempuan datang menemui Pambudi. Ia mengajukan permohonan agar diberi pinjaman padi.

“Untuk apa padimu nanti, Mbok?”
“Akan kujual. Uangnya akan kupergunakan untuk berobat. Lihatlah, leherku membengkak. Sakit sekali rasanya.”

Setelah Pak Dirga datang, Pambudi membawa tamunya masuk ke kamar kerja Kepala Desa. Dengan suara lirih dan gemetar, Mbok Ralem mengutarakan maksudnya kepada Pak Dirga.

Pak Dirga tidak segera memberi jawaban. Ia hanya melihat sepintas saja pada leher Mbok Ralem. Kemudian dengan pandangan mata lurus Pak Dirga berkata:

“Mbok Ralem, sebenarnya seorang seperti kamu tidak bisa mendapat pinjaman.”


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 5

“Kali ini saya harus tahu. Soalnya, saya ingin tahu, penting mana rencana Bapak itu dengan keharusan kita menolong Mbok Ralem.”

Pak Dirga menyembunyikan kagetnya dengan cepat-cepat menyalakan rokok. Ia tidak mengira akan dikejar dengan pertanyaan yang menyelidik seperti itu.


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 6

Alangkah nyaman hari-hari berikutnya terasa oleh Pambudi. Kenyataan bahwa sekarang ia menjadi penganggur, tidak mengurangi cerahnya perasaannya. Pambudi benar-benar menikmati suasana yang sulit digambarkan.

Sepedanya dikayuh melalui jalan-jalan kecil yang menyelinap di bawah rumpun-rumpun bambu. Tidak lama, sampailah ia ke halaman sebuah rumah kecil, tanpa pintu.

“Mbok Ralem, kau tak perlu takut seperti itu.”
“Anu, anu… anu, Nak.”
“Anu apa, Mbok?”
“Aku takut kau membawa perintah dari Lurah untuk menghukumku.”


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 7

Ketika nama Mbok Ralem disebut, Pambudi ikut masuk ke ruang periksa. Surat keterangan dari Tanggir diperlihatkan kepada mantri yang memeriksa Mbok Ralem.

Mereka berbicara sebentar, kemudian Pak Mantri bertanya kepada Pambudi:

“Apakah Anda anak ibu ini?”
“Bukan, tetapi segala sesuatu yang menyangkut perawatan pasien ini dapat dibicarakan dengan saya.”


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 8

“Jadi pertama-tama Anda meminta kesediaan kami untuk memasang iklan. Selanjutnya Anda meminta supaya Kalawarta membuka dompet sumbangan untuk menghimpun dana bagi perawatan Mbok Ralem. Begitu, bukan?”

“Ya, benar, Pak.”


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 9

“Lalu mengapa Bung mengetuk kamar saya? Mengapa tidak mencari penginapan lain?”

“Oh, anu. Begini, ya, Mas, losmen dan hotel di kota ini sedang penuh semua. Dan gadis itu hanya ingin Anda perbolehkan menggelar tikar di lantai kamar Anda.”


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 10

Tiba di Tanggir, Pambudi menemukan kedua anak Mbok Ralem tinggal bersama bibi mereka. Dua minggu ditinggal oleh emaknya, kedua anak itu semakin layu.

Dari saku celananya Pambudi mengambil uang receh.

“Belilah beberapa bungkus meniran,” katanya kepada anak Mbok Ralem yang besar.


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 11

Keadaan tubuh perempuan Tanggir itu cepat berubah, bersih dan gemuk. Ransumnya bergizi baik dan selalu dimakannya habis.

Pada hari ke-36 Mbok Ralem diizinkan pulang. Bukan main senang hatinya.


← Kembali ke Daftar Isi


Episode 12

“Selamat jalan, Mbok, Pambudi. Aku berterima kasih kepada kalian. Karena kalianlah Kalawarta berkesempatan menunaikan misinya yang paling berarti. Juga karena kalianlah aku merasa yakin bahwa tidak sesuatu pun telah hilang dari diri kita sebagai manusia. Memang, si Anu itu jarang hadir di antara kita. Tetapi bagaimanapun juga si Anu masih ada. Kita sendiri yang baru saja membuktikannya: Kemanusiaan.”


Penutup

Di Kaki Bukit Cibalak adalah karya Ahmad Tohari yang mengangkat tema kemanusiaan, ketidakadilan sosial, korupsi di tingkat desa, dan perjuangan seorang pemuda bernama Pambudi dalam menolong sesamanya.

Cerita ini sarat dengan kritik sosial terhadap kondisi masyarakat pedesaan Jawa pada masanya, sekaligus menampilkan harapan melalui tindakan kemanusiaan yang tulus.


Sumber: Di Kaki Bukit Cibalak oleh Ahmad Tohari


Akhir


Thanks for reading!

Di Kaki Bukit Cibalak - Ahmad Tohari

Fri May 22 2026
1209 words · 7 minutes